Aku terus melaju dengan pikiranku
Menggelapkan keadaan di sisi kiri dan kanan
Tapi tak juga memberi cahaya pada ruang di hadapkanku
Satu-satunya cahaya yang tersisa hanya yang menyala terang di dalam pikiranku
Pikiran tentangmu
Tanpa mata, kakiku melangkah
Terhenti sesaat oleh pandangan sekilas
Daun pintu belumlah mempersilakan tamunya masuk
Dan aku mendapatimu di sudut taman
Tersenyum, menertawakan kealpaanku pada 4 arah mata angin
Masih terselip di labirin ingatanku
walau Sang Kala telah melemparkanmu jauh dari masa kini
Suara itu tetap bertanya
dan aku berharap, engkau masih berdiri di tebing selatan
Haru Biru
Rabu, 25 Agustus 2010
Jendela Matahari
Aku gamang
Dugaan terselip dibalik jendela
Menggumamkan pikiran bahwa kau tahu apa yang kuinginkan darimu
Kepicikan membuatku menyempitkan pikiran
Ketakutan meremas asaku
Bahwa kau akan terlontar ke ujung dunia oleh pegas keadaan
Setiap kali terik matahari membakar ruangan ini
Mataku sontak memisahkan diri dari pasangannya
dan aku mendapatimu hanya sejengkal dari sisiku
Kau tak tahu
Kegembiraan yang mengawali hariku
Dibayangi ketakutan hingga senja
Merahnya ufuk barat
Hanya meneriakkan kutukan
Aku tak akan pernah mengungkapkannya
Selamanya... hingga dunia menutup mata...
Dugaan terselip dibalik jendela
Menggumamkan pikiran bahwa kau tahu apa yang kuinginkan darimu
Kepicikan membuatku menyempitkan pikiran
Ketakutan meremas asaku
Bahwa kau akan terlontar ke ujung dunia oleh pegas keadaan
Setiap kali terik matahari membakar ruangan ini
Mataku sontak memisahkan diri dari pasangannya
dan aku mendapatimu hanya sejengkal dari sisiku
Kau tak tahu
Kegembiraan yang mengawali hariku
Dibayangi ketakutan hingga senja
Merahnya ufuk barat
Hanya meneriakkan kutukan
Aku tak akan pernah mengungkapkannya
Selamanya... hingga dunia menutup mata...
Langganan:
Postingan (Atom)